Jumat, 27 Desember 2013

gambar pemandangan


Untuk kebanyakan orang Indonesia, jika anda disuruh menggambar pemandangan, apa yang anda gambar? Gambar simetris dari dua buah gunung, dengan awan da matahari, ada jalan yang tepinya pepohonan, di kanan-kiri ada sawah. Begitu?

Saya memiliki pengalaman yang mengesalkan mengenai hal ini, sangat mengesalkan sampai sekarang. Kejadian itu adalah kejadian di saat masih duduk di kelas lima SD, sampai semester akhir kuliah S1 saat ini saya masih merasa sebal. Waktu itu saya mengikuti loma melukis untuk siswa SD. Saya sudah maju ke tingkat kecamatan, saya bersaing dengan tiga lainnya dari sekolah yang berbeda. Saya kalah, juara empat juara terakhir! Saya tidak masalah kalau kalah, saya sportif. Menghargai kekalahan dan kemenangan asalkan sportif. Tidak masalah kalau saya harus kalah. Tapi yang saya sesalkan adalah komentar jurinya. Lukisan saya, gambar saya ditaruh di urutan terakhir karena tidak ada gunungnya! Menurut jurinya, pemandangan itu harus ada gunungnya! What?

Memangnya pemandangan itu harus ada gunungnya? Memangnya semua pemandangan di dunia ada gunungnya? Memangnya semua tempat punya gunung? Saya memang ingin yang beda, jadi saya tidak menggambar gunung. Memangnya salah kalau tidak menggambar gunung? Saya, kelas 5 SD, 10 tahun, berpikir semacam itu. Pandangan tajam langsung saya arahkan kepada juri.

Waktu itu saya menggambar pemandangan pantai. Lautnya cerah berwarna biru. Pasir pantainya warna garam dan lada. Di kiri bawah ada semak rerumputan dan tanaman bunga sepatu yang sedang mekar dengan catiknya. Bunganya agak besar karena dalam jarak pandang yang dekat. Di atas bunga ada burung kolibri yang siap menghisap sarinya. Di tepian pantai ada burung bangau dengan kakinya yang jenjang, sedang mengisi perut mencari ikan-ikan. Di kanan bawah ada pohon kelapa yang menjulang sampai ke tengah kertas. Daunnya hijau melambai menyambut angin, dengan segerombolan buah kelapa yang menggoda. Di dekatnya ada batu karang, di atasnya duduk seorang pemancing yang mengarahkan kailnya ke laut. Di laut, ada perahu nelayan. Nampak kecil karena berada di kejauhan. Semantara itu matahari hampir tenggelam. Warnanya agak oranye dan memantul di lautan. Berkelok-kelok terkena ombak. Semantara itu di langitnya ada burung burung. Tidak ada gunung. Tidak ada!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar